Perjuangan Rumah Sakit Indonesia di Tengah Pertarungan Hidup dan Mati di Gaza

Jalur Gaza, SPNA – Pasukan Israel dilaporkan mengepung Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara pada Jumat malam (18/10/2024), menandai peningkatan agresi militer di wilayah itu.

Direktur Rumah Sakits Indonesia, Dr. Marwan Al-Sultan, mengungkapkan bahwa tank-tank Israel menguasai area dan melepaskan dua tembakan ke arah fasilitas medis terbesar di Gaza utara, bantuan dari pemerintah Indonesia. Suara ledakan berturut-turut menggema di sekitar lokasi, semakin memperburuk situasi di tengah penembakan yang intens.

Selain serangan peluru, kendaraan lapis baja Israel juga merobohkan sebagian dinding bangunan dengan bantuan buldoser. Pasukan Israel datang dari arah bundaran Sheikh Zayed dan Talat Qalib, dengan cepat mengepung seluruh kawasan.

Akibat serangan ini, generator listrik berhenti berfungsi, menyebabkan gangguan serius pada pelayanan medis. Di dalam gedung, suasana semakin kacau akibat kepanikan yang melanda tenaga medis dan pasien yang terluka. Staf berjuang dalam kondisi tanpa listrik dan fasilitas yang memadai, membuat situasi semakin sulit.

Intensitas serangan meningkat di sekitar lokasi seiring dengan bombardir di bundaran Sheikh Zayed. Tank-tank dan kendaraan lapis baja mulai menembakkan peluru secara intensif, menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan semua yang berada di dalamnya. Hingga saat ini, belum ada laporan pasti terkait jumlah korban yang jatuh akibat serangan tersebut.

Tak hanya fasilitas kesehatan ini yang menjadi target, sejumlah rumah sakit lain di Gaza Utara, termasuk Rumah Sakit Kamal Al-Adwan, juga menghadapi ancaman serupa.

Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah Israel mengirimkan bala bantuan militer besar ke perbatasan Jabaliya di wilayah timur. Kendaraan-kendaraan militer bergerak menuju Bukit Tal Al-Zaatar, menambah intensitas pengepungan dan serangan di daerah tersebut.

Selain mengepung fasilitas kesehatan, Israel juga melanjutkan penghancuran rumah-rumah warga sipil di sejumlah lokasi, menggunakan berbagai metode, termasuk robot yang membawa bahan peledak dan kendaraan lapis baja yang dipersenjatai.

Pengepungan ini tidak hanya mengancam pelayanan medis, tetapi juga kehidupan warga sipil di Gaza Utara. Bantuan kemanusiaan yang berhasil masuk ke wilayah ini sangat terbatas, dengan hanya sedikit pasokan bantuan dalam beberapa hari terakhir. Penduduk di wilayah utara terisolasi dari dukungan internasional, sementara kekerasan terus meningkat.

Israel juga melanjutkan penghancuran tempat tinggal penduduk di berbagai lokasi, menggunakan metode mematikan. Tindakan ini telah menyebabkan kehancuran luas, termasuk kerusakan parah pada fasilitas kesehatan yang merupakan salah satu yang terbesar di kawasan itu.

Ini bukan pertama kali Rumah Sakit Indonesia menjadi sasaran pasukan Israel, sebelumnya juga telah menjadi target operasi militer Israel dan menyebabkan kerusakan signifikan. Beberapa staf medis dilaporkan ditangkap, sementara pasien dan korban luka dievakuasi ke bagian selatan untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.

Rumah Sakit Indonesia: Simbol Harapan di Tengah Perang

Dilansir Institute for Palestine Studies, Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara menjadi fasilitas kesehatan pertama yang dibangun selama masa blokade dan penutupan wilayah tersebut sejak tahun 2006. Ide untuk mendirikan rumah sakit ini muncul setelah agresi militer Israel pada tahun 2008-2009. Pembangunan dimulai pada tahun 2011 di atas lahan seluas 1,2 hektar dan diresmikan pada tahun 2016, setelah lima tahun pembangunan yang terhambat oleh blokade.

Terletak di kawasan Kamp Pengungsi Jabalia-Tel Al-Zaatar, rumah sakit ini memiliki kapasitas 110 tempat tidur, termasuk 10 tempat tidur di unit perawatan intensif. Setiap hari, fasilitas ini melayani lebih dari 300 ribu warga, dengan rata-rata 250 pasien per hari.

Pembukaan rumah sakit ini memberikan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan di Gaza, mengurangi beban pada Rumah Sakit Kamal Adwan yang sempat ditutup selama satu tahun untuk perbaikan setelah rumah sakit Indonesia beroperasi. Selain itu, rumah sakit ini juga mengurangi tekanan pada Rumah Sakit Beit Hanoun di utara, dan menghasilkan peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat di Gaza Utara.

Selama bertahun-tahun blokade (2007-2023), rumah sakit ini mengalami kerusakan berat, terutama selama agresi militer pada tahun 2014, ketika terjadi invasi darat di sekitar Jabalia. Pada tahun 2018, rumah sakit ini kembali mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel dalam eskalasi konflik di Gaza.

Sejak dibuka, rumah sakit ini terus mengembangkan sumber daya manusia dengan mengirimkan sejumlah dokter Palestina untuk mendapatkan pelatihan dalam bidang bedah umum dan bedah laparoskopi, bekerja sama dengan komunitas dokter Palestina di Eropa dan Rumah Sakit Akademik Emrald di Westrichstadt, Jerman.

Rumah Sakit Indonesia tetap menjadi simbol harapan dan perjuangan di tengah tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Gaza, berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan yang terbaik meskipun dalam kondisi perang.

(T.RS/S:Al Jazeera, Institute for Palestine Studies)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya