Jalur Gaza, SPNA – Direktur Divisi Pembiayaan dan Kemitraan OCHA, Lisa Doughten mengatakan bahwa Gaza saat ini menjadi tempat dengan jumlah anak amputasi terbesar dalam sejarah modern. Dalam sidang DK PBB yang digelar pada Rabu lalu (09/10/2024), Doughten menyatakan bahwa setiap hari sekitar sepuluh anak di Gaza kehilangan satu atau kedua kakinya akibat serangan dari Israel.
Doughten juga menjelaskan bahwa perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling terkena dampak oleh trauma agresi brutal Israel. Selain jumlah anak yang kehilangan anggota tubuhnya, perempuan Palestina di Gaza juga menghadapi risiko tinggi saat kehamilan. Menurut Doughten, perempuan di Gaza tiga kali lebih mungkin mengalami keguguran atau meninggal saat melahirkan dibandingkan dengan kondisi normal.
Lebih lanjut, Doughten mengungkapkan bahwa lebih dari 2 juta orang di Gaza tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Di antara mereka, ada 50.000 wanita hamil yang tidak bisa mendapatkan perawatan medis yang diperlukan. Kondisi ini diperburuk oleh serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis di Gaza oleh militer Israel. Doughten menegaskan bahwa serangan terhadap sistem kesehatan Gaza ini merupakan bagian dari kampanye agresi yang lebih luas dan disebut sebagai kejahatan perang.
Laporan PBB: Pelanggaran Berat terhadap Hak Asasi Manusia
Laporan PBB yang diterbitkan beberapa waktu lalu menyatakan bahwa Israel menerapkan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina. Salah satu bentuk hukuman tersebut adalah melalui blokade yang berkepanjangan, yang menghalangi akses terhadap kebutuhan dasar seperti bahan bakar, makanan, air, dan pasokan medis. Blokade ini juga memperburuk krisis kemanusiaan yang ada, termasuk pembatasan izin bagi pasien Palestina yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Menurut laporan tersebut, Israel secara sistematis menghancurkan fasilitas kesehatan di Gaza dan menyerang staf medis yang bekerja di wilayah tersebut. Kepala komisi penyusun laporan pelanggaran hukum Israel di Gaza, Navi Pillay, mendesak Israel untuk segera menghentikan tindakan destruktif terhadap sistem kesehatan di Gaza. Dia mengecam tindakan Israel sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan menuduh Israel menjalankan kebijakan yang disengaja untuk menghancurkan sistem kesehatan Gaza sebagai bagian dari serangan yang lebih besar.
Kesaksian Dokter AS: Anak-anak Ditembak di Kepala
Selain itu, dalam laporan baru-baru ini yang diterbitkan oleh The New York Times, beberapa dokter Amerika Serikat yang bekerja di Gaza menceritakan pengalaman mereka dalam menangani anak-anak Palestina yang mengalami cedera parah. Dr. Feroze Sidhwa, seorang ahli bedah trauma yang bekerja di Khan Younis, Gaza, selama dua minggu pada Maret dan April, menyatakan bahwa ia kaget melihat begitu banyak anak yang mengalami luka tembak di kepala atau dada. Ia menyebutkan bahwa 13 anak meninggal akibat luka-luka tersebut.
Dokter tersebut juga menceritakan bahwa banyak tenaga medis lain yang bekerja di Gaza juga menyaksikan pola serupa: anak-anak ditembak di kepala atau dada selama serangan Israel di wilayah tersebut. Sidhwa mengatakan bahwa ia mempercayai adanya penembak jitu Israel yang secara khusus menargetkan anak-anak, meskipun hal ini belum secara resmi dikonfirmasi.
Laporan ini juga menunjukkan bahwa trauma psikologis sangat meluas di kalangan anak-anak Gaza. Sebanyak 52 tenaga medis yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka menyaksikan gejala-gejala gangguan psikiatri pada anak-anak, beberapa di antaranya mengalami keinginan bunuh diri atau mengungkapkan bahwa mereka berharap mati.
Serangan terhadap Fasilitas Sipil
Selain penargetan fasilitas kesehatan, Israel juga terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil di Gaza. Menurut laporan dari berbagai sumber, serangan udara Israel baru-baru ini menghantam kompleks perumahan di Jabalia, Gaza, yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.
Situasi di Gaza semakin memburuk dengan anak-anak dan perempuan menjadi korban kebrutalan Israel. Serangan yang terus-menerus terhadap fasilitas kesehatan, sistem blokade, serta penargetan langsung terhadap warga sipil oleh militer Israel telah memicu krisis kemanusiaan yang serius. Dalam 369 hari, sebanyak 42,126 rakyat Gaza terbunuh, 98,117 luka-luka dan 11,000 dinyatakan hilang.
PBB dan berbagai kelompok hak asasi manusia terus menyerukan penghentian segera atas kekerasan ini, serta meminta agar tindakan-tindakan tersebut diakui sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
(T.RS.S/S:MiddleEastMonitor)